Di Kampung Ulos Berastagi, Tenun Uis Karo Masih Hidup di Tangan Perajin — Sorasirulo
← Beranda

Di Kampung Ulos Berastagi, Tenun Uis Karo Masih Hidup di Tangan Perajin

Di Kampung Ulos, Berastagi, perajin masih menenun uis Karo dengan cara lama sambil menyambut wisatawan yang datang melihat langsung prosesnya.

Rabu pagi di Berastagi, suara alat tenun masih terdengar dari rumah-rumah di Kampung Ulos. Bukan suara mesin, tapi gesekan benang yang ditarik tangan, pelan dan berulang, seperti biasanya.

Di kampung ini perajin menenun apa yang orang luar sering sebut ulos, padahal dalam bahasa Karo namanya uis. Sehelai kain yang keluar dari tangan penenun dijual antara Rp150 ribu sampai Rp850 ribu, tergantung motif dan waktu pengerjaannya. Wisatawan yang mampir tidak cuma membeli, banyak yang berhenti agak lama, menonton benang berubah jadi kain, kadang bertanya bagaimana motif itu punya nama dan makna sendiri untuk tiap acara adat. Bagi warga kampung, momen sesederhana itu, orang asing yang penasaran dan mau duduk memperhatikan, sudah cukup jadi alasan untuk terus menenun meski cara ini jauh lebih lambat dari pabrik.

Tidak ada yang berubah drastis di Kampung Ulos hari itu. Tapi selama masih ada tangan yang menenun dan mata yang mau melihat, uis Karo belum akan jadi barang museum.