Kolom: Festival Bunga dan Buah, Rasa Syukur yang Kini Dikemas untuk Dunia — Sorasirulo
← Beranda

Kolom: Festival Bunga dan Buah, Rasa Syukur yang Kini Dikemas untuk Dunia

Festival Bunga dan Buah Karo lahir bukan dari meja perencanaan pariwisata — ia lahir dari syukuran panen. Ketika ia masuk agenda nasional, ada pertanyaan yang perlu kita tanyakan: untuk siapa festival ini dirayakan?

Ada yang menarik dalam rapat koordinasi Festival Bunga dan Buah Karo 2026 yang digelar 22 Mei lalu di Aula Rakoetta Brahmana, Kabanjahe. Bupati Antonius Ginting menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar seremonial — ini agenda strategis daerah untuk mengangkat kekuatan Taneh Karo ke level nasional dan internasional. Hadir dalam rapat itu Wakil Bupati Komando Tarigan, Sekretaris Daerah Gelora Putra Ginting, perwakilan Polres Karo, kejaksaan, kepala kecamatan, dan berbagai unsur masyarakat. Sebuah formasi yang lebih mencerminkan mesin pemerintahan daripada majelis kebudayaan. Ambisi itu sah-sah saja. Namun ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sesungguhnya sedang dirayakan dalam festival ini? Festival Bunga dan Buah bukan lahir dari ruang rapat. Ia lahir dari tradisi syukuran panen — ungkapan terima kasih atas tanah yang subur, atas musim yang tidak mengkhianati petani Karo. Sejak 1980-an, festival ini adalah cara Orang Karo merayakan keberhasilan ladang, bukan untuk mengundang wisatawan, tapi untuk merayakan diri mereka sendiri. Taneh Karo memiliki posisi yang unik di Sumatera Utara: dataran tinggi yang menjadi sumber buah dan sayur untuk pasar regional hingga internasional. Identitas Karo, sebagian besar, adalah identitas petani — bukan dalam arti yang merendahkan, tapi dalam arti yang paling fundamental: hubungan dengan tanah adalah hubungan dengan hidup itu sendiri. Ketika festival ini masuk dalam program Karisma Event Nusantara dan diposisikan sebagai event unggulan pariwisata nasional, ada pergeseran yang perlu kita sadari. Bukan pergeseran yang salah — pariwisata bisa membawa manfaat nyata bagi petani dan pekerja kreatif Karo. Yang penting adalah kita tidak kehilangan kesadaran tentang asal-usulnya. Dalam berbagai diskusi tentang tradisi lisan dan identitas Karo, satu pertanyaan yang sama kerap muncul: *untuk siapa ini dilakukan?* Untuk yang di dalam, atau untuk yang dari luar melihat ke dalam? Festival Bunga dan Buah 2026 masih punya waktu menjawab pertanyaan itu dengan jujur — sebelum Juli tiba.