Kolom Eko Kuntadhi: FASHION STREET DI SUDIRMAN

0 0
Read Time:2 Minute, 7 Second

Jalan Sudirman, di Jakarta, jadi lebih meriah. Serombongan anak-anak muda. Dengan fashion seru tampil mengekspresikan diri. Mereka adalah anak-anak muda dari Jakarta coret, tepatnya Citayam, Bojong atau Depok. Beramai-ramai nongkrong.

Memperlihatkan gaya pakaian, yang mungkin sedikit berbeda dengan anak Jaksel.

Anak-anak muda ini butuh ruang ekspresi. Ruang pengakuan. Bahwa mereka adalah bagian syah dari masyarakat yang sedang tumbuh. Anak-anak kandung Instagram, FB dan Youtube.

Mereka dibesarkan oleh media yang mereka tuliskan sendiri. Yang mereka gambarkan sendiri. Ketika media mainstream mungkin saja tidak pernah menempatkan mereka sebagai pusat perhatian.

Saya selalu suka ekspresi budaya seperti ini. Anak-anak muda yang tampil dengan kemudaannya. Di tengah anak muda yang dicekoki doktrin agama over dosis yang membuat mereka kehilangan jati dirinya sebagai anak muda Indonesia.

Anak-anak ini lahir dari latar belakang sosio kultural yang khas. Mereka mengadopsi kemajuan dunia digital. Sementara budaya asalnya belum sepenuhnya berubah.

Satu kakinya mau menaiki anak tangga baru di atasnya. Tapi belum sempat menjejak. Sedangkan satu kakinya lagi belum sepenuhnya lepas dari pijakan anak tangga di bawahnya.

Hidup mereka serasa melayang dalam kebudayaan yang sama sekali baru.

Mungkin di sana ada semacam shock culture. Ada kegagapan. Mereka berusaha menepisnya. Tapi tepisan itu justru memperkuat keraguannya.

Menonton konten mereka, barangkali diantara kita ada yang mengernyitkan dahi. Ada yang berlebihan. Semisal cupang di dada cewek dibahas terbuka. Tapi justru karena terbuka itu, kita tahu, bagaimana interaksi mereka. Sebuah pemberontakan diantara dominasi kota dan budaya munafik orangtua.

Bagi saya, gaya mereka di sepanjang Sudirman adalah ekspresi sebuah generasi dari sebuah subkultur. Dibilang kultur metropolitan tapi rasanya masih belum sepenuhnya. Jika diketegorikan sebagai bagian dari kultur rural, nyatanya bukan juga.

Tapi sekali lagi, apapun gaya mereka. Tidak ada yang pantas melakukan penghakiman. Apalagi menghakimi tampilan pakaian atau mode rambut. Mungkin memang ada yang khas dan berbeda dari mereka. Tetapi bukankah setiap kultur punya kekhasannya sendiri?

Anak-anak ini. Diwakili Bonge. Jeje. Kurma. Roy atau semua sebutan nick name mereka. Sekali lagi, punya dunia sendiri. Punya cara ekspresi sendiri. Dan mereka berhak menikmati hidupnya.

Hanya orang norak dan sok kota yang menertawakan mereka.

Adek-adek ini jauh lebih menarik ketimbang anak-anak muda yang sok suci, yang dikit-dikit mikirin kawin. Atau yang gayanya selangit sok agamis. Padahal mereka cuma korban kuktur asing yang belum tentu dipahami sepenuhnya.

Anak-anak muda di sepanjang Sudirman. Dengan pakaian seru. Mereka adalah pemilik syah sejarah Indonesia hari ini.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: