GARIS KETURUNAN GANDA — Dampaknya Untuk Kepribadian Suku Bangsa

Kepribadian dari saudara-saudara seayah seibu saja selalu berbeda, bagaimana pula bisa mengenali kepribadian satu suku bangsa? Demikian sering dikatakan oleh orang-orang yang tidak memahami adanya pola-pola prilaku manusia yang memiliki korelasi kuat dengan pengelompokan-pengelompokan sosial.

Demikian pula pengelompokan sosial tidak selalu kebetulan tumbuh secara alamiah, tapi merupakan tuntutan budaya dan selanjutnya pengelompokan sosial itu menuntut orang-orangnya berprilaku tertentu.

Untuk membuat lebih jelas apa yang saya maksud, saya mulai saja dengan “missi” seni yang pernah saya tampilkan di Hamburg (Jerman) beberapa tahun lalu. Sebuah drama tari yang mengangkat perseteruan Aron Simantek dengan Aron Anceng.

Aron Simantek menampilkan busana, tarian, dan musik yang penuh kehormatan, sopan santun, keteraturan, dan keberadaban. Sementara Aron Anceng berusaha menampilkan berbagai atraksi yang sifatnya bikin heboh dan menarik perhatian orang banyak sehingga orang-orang yang tadinya tekun menonton tampilan Aron Simantek pindah ke pinggir kampung melihat pertunjukan Aron Anceng yang sifatnya lucu dan kadang mendebarkan.

Dari penelitian lapangan yang saya lakukan untuk Studi Antropologi, saya melihat adanya dua dunia Karo yang menjadi kontras satu sama lain, yaitu Dunia Kuta dan Dunia Urung. Dunia Kuta (kuta= kampung) mewajibkan orang-orang yang sedang berada di dalamnya berprilaku sopan dan penuh hormat (mehamat). Sementara Dunia Urung mempersilahkan orang-orang bertingkahlaku secara lebih bebas dan boleh agak liar.

Itu tidak berarti ada Orang Kuta dan ada pula Orang Urung. Satu orang yang sama wajib mengikuti tuntutan Dunia Kuta saat dia berada di Dunia Kuta dan tuntutan Dunia Urung saat dia berada di Dunia Urung.

Hal itu tercermin di dalam ungkapan, “Cakap Jambur ula baba ku rumah.” (Percakapan di tempat ngumpulnya para pria jangan diteruskan sampai ke rumah). Walaupun bangunan jambur secara kasat mata berada di dalam kuta, bangunan ini tergolong berada di Dunia Urung, sedangkan rumah (rumah adat, red.) berada di Dunia Kuta.

Belakangan saya menyadari kalau Dunia Kuta adalah dunianya para perempuan yang hidup bersama leluhur, sementara Dunia Urung dunianya para lelaki yang hidup bersama alam.

Dalam Antropologi kita bisa membedakannya dengn istilah Uxorilocal Residence dan Virilocal Residence yang diterapkan juga dalam pembedaan perkawinan erdemu bayu dengan perkawinan nangkih.

Erdemu bayu sifatnya Uxorilocal Residence dimana ritual perkawinan dilakukan dengan mengintegrasikan pengantin pria ke kuta pengantin perempuan. Sebaliknya nangkih sifatnya Virilocal Residence dengan mengintegrasikan pengantin perempuan ke urung pengantin pria.

Dualisme seperti ini menjadi sebuah ciri khas pendekatan Antropologi Struktural dari Universitas Leiden. Pertama sekali ditemukan oleh Van Wouden di Masyarakat Kodi (Sumba). Dari penemuan itu dia mengembangkan teorinya mengenai Field of Anthropological Study (FAS) dan J.P.B. de Jossdelin de Jong memperluasnya menjadi Indonesia as a FAS.

Menurut J.P.B de Josselin de Jong, ada tiga ciri utama Indonesia as a FAS, yaitu 1. Garis keturunan ganda (double descent), 2. Socio-cosmic dualism (kosmologi dualisme), 3. Perkawinan searah (asymmetric marriage-alliance).

Salah satu ciri khas aliran Strukturalisme pada umumnya dan terasa kuat sekali di Leiden adalah membantah teori evolusi keluarga yang dimulai oleh Wilken (Belanda) dan kemudian dikembangkan oleh L.H. Morgan (Amerika).

Contoh kecil bantahan itu adalah mengenai asumsi kaum evolusionis bahwa garis keturunan matrilineal Minangkabau adalah peninggalan fase lebih tua dalam evolusi keluarga; dari Promiskuitas (kawin bebas) ke Matrilineal dan dari Matrilineal ke Patrilineal berlanjut ke Parental.

Menurut teori struktural Leiden, masyarakat-masyarakat di Indonesia menganut garis keturunan ganda, gabungan matrilineal dan patrilineal. Hanya saja, di masyarakat-masyarakat tertentu penekanannya pada matrilineal seperti halnya Minangkabau, sementara di masyarakat-masyarakat lain penekanannya pada patrilineal seperti halnya Batak. Ada juga yang bilineal seperti Jawa.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bila di Minangkabau sendiri ada daerah dimana yang melamar adalah pihak pria meskipun pada umumnya di sana pihak perempuan yang melamar pria. Demikian juga di Batak, kadang upacara perkawinan dilaksanakan di kampung perempuan meskipun standard umum harus dilakukan di kampung pria.

Sebaliknya di Karo, standard umum (erdemu bayu) harus dilakukan di kuta perempuan, walaupun nangkih diadakan di urung Pria.

Seni Karo yang saya tampilkan di Hamburg (Jerman) beberapa tahun lalu missinya memperlihatkan adanya dua dunia Karo, yang satunya menekankan keluhuran dan satunya lagi kebebasan.

Memang orang-orang Karo sekarang cenderung menunjukan dirinya berkepribadian luhur itu dan mengklaim Karo Berbudaya Luhur (mehamat mehaga) dengan mengabaikan adanya ruang-ruang kebebasan. Itulah missi saya dengan pertunjukan seni di Hamburg, menunjukan bahwa keduanya ada dan perlu saling mengakui dengan menikmati perbedaan.

Dari uraian saya pembaca kiranya sudah dapat menduga bahwa bentrok antar suku bisa terjadi atas adanya dua kecenderungan itu. Suku tertentu memberikan penekanan pada kepribadian bebas lepas, sementara suku yang lain penekanan pada kelembutqn penuh aturan.

Sebagaimana ungkapan Karo, “datanglah ke Karo sebagai ayam betina, jangan datang sebagai ayam jago”.

Semoga pembaca memahami yang tersurat dan tersirat dari tulisan ini dalam upaya lebih mengakui dan menerima PERBEDAAN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.