Kolom Aspipin Sinulingga: JANGAN AJAK KERA BERCERMIN — Gerombolan Pengeroyok Ade Armando (Celengan Rindu)

0 0
Read Time:3 Minute, 28 Second

Dari Ade Armando kita belajar bahwa memberi pencerahan kepada segerombolan kera hanya akan menghasilkan babak belur pecah bibir. Berbicara ke publik dengan nalar terkontaminasi dogma, masalahnya bukan pada apakah yang anda katakan benar, tapi lebih kepada apakah mereka yang mendengar punya cukup nalar.

Nabi Muhammad SAW dalam riwayat sudah membuktikan, berita kebenaran yang Beliau sampaikan kepada Bani Quraisy malah memberi Beliau Cela, Caci, dan bahkan dilempari tai. Nabi Isa AS atau yang kawan-kawan Kristen kenal dengan nama Yesus juga demikian.

Dalam perspektif Islam, kami yakin bahwa berita gembira yang dibawa Nabi Isa AS malah mendatangkan upaya pembunuhan Nabi Isa AS di tiang oleh masyarakat yang Beliau cerahkan melalui tangan Pontius Pilatus. Dn ingat, Keputusan Penyaliban Nabi Isa AS juga hasil Ijtima Ulama pada masa itu.

Bahkan Soccrates dan Galileo pun tak ayal menerima ganjaran yang sama, mati karena berbicara kebenaran di tengah kebakaran kera berpakaian manusia.

Apakah Ade Armando selalu benar? Tidak.

Ade Armando sama seperti Rocky Gerung, sama-sama konyol dan menggelitik. Seperti membandingkan Habib Kribo dan Riziq N The Gank (manusia-manusia yang minta dianggap suci karena mengaku punya darah Nabi, padahal dalam Quran; Mengkultuskan kenabian Rasulluah setelah Rasul wafat adalah kafir).

Membandingkan gerombolan FPI, katakan lah Munarwan dengan Abu Janda, mereka semua pada dasarnya sama.

Lalu apa yang berbeda?

Mereka mengkritisi sosok dan kelompok yang berbeda. Salah satu kelompok didogma untukn memb*n*h siapa saja yang berbeda dengan mereka. Sedangkan kelompok lain, karena nalarnya masih sehat, menghindari prilaku-prilaku primitif yang sudah lama ditinggalkan bahkan oleh Homo Wajakensis dan Homo Soloensis.

Kelompok ini memilih hidup sebagai “Manusia Nusantara Berbudaya” dimana perbedaan diramu dalam kalimat Bhineka Tunggal Ika.

Dari beberapa kontroversi Ade Armando, mungkin hanya komentarnya soal Homoseksual yang mencederai Islam, karena jelas dalam Quran homoseksual dilarang dengan contoh azab yang diterima kaum Nabi Luth dalam QS Al A’raf : 7 dan An Naml : 54.

Selebihnya?

Memang mustahil Tuhan identik dengan 1 ras, lalu kenapa anda marah dengan kalimat Tuhan Bukan Orang Arab? Jawabannya gampang, karena anda didogma untuk mengkultuskan mereka yang berdarah Arab.

Apakah adzan itu suci?

Adzan itu panggilan, himbauan, maklumat untuk memberitahu bahwa Shalat (waktu ibadah) telah tiba. Yang suci itu Asma (nama) Allah SWT, yang suci itu Al Quran (Qalammullah) bukan buku dan kertasnya.

Quran ada dalam sanubari mereka yang beriman kepada Islam, bukan dalam lembaran kertas yang diukir tinta yang bahkan umat Islam tidak pernah memastikan apakah kedua bahan tersebut halal atau tidak.

Soal cuitannya tentang Riziq?

Lha, Riziq hanya manusia biasa yang kebetulan berdarah Arab. Catat, ARAB: yaitu ras yang memenuhi Puncak untuk melakukan “kawin kontrak” dengan perawan-perawan Bumi Parahyiangan dan lalu meninggalkan mereka jika para Arab itu sudah bosan.

Yaitu ras yang kerap melakukan penganiayaan terhadap TKW Indonesia yang bekerja sebagai PRT di Jazirah Timur Tengah.

Awak menebar kebencian SARA?

Silahkan kalian berpikir demikian, seperti kukatakan di awal, bukan tentang apa yang kukatakan benar atau salah, tapi apakah mereka yang membaca dan mendengar punya cukup nalar atau tidak?

Dan jika dogmatisme kalian soal Arab masih begitu kokoh, awak hanya ingin ingatkan; Nabi Muhammad SAW dalam riwayat sesuai keimanan Islam, diutus ke tengah salah satu bani (kaum) paling biadab di muka bumi.

Yaitu Bukan Orang Jawa, Bali, Karo, Batak, Minang, Nias, Madura, Ambon, Papua, Dayak, Sawu, dan lain-lain. Nabi Muhammad diutus untuk mereka yang sangat biadab, Bani Quraisy; salah satu Etnik Bangsa Arab, saal muasal Riziq.

Akhirul Qalam;

Ade Armando telah menerima konsekwensi dari pikirannya walau mungkin ketulusannya masih jauh dari ketulusan yang Soccrates dan Galileo tunjukan ketika menghadapi maut demi menjaga kebenaran

Demikian juga dengan keteguhan seorang Masyur Al Halaj dan Syeikh Lemah Abang (Syeikh Siti Jenar) menghadapi tuduhan dan fitnah atas apa yang mereka Imani.

Kembali;

Masalahnya bukan soal apakah yang percaya dan sampai benar atau salah, tapi apakah mereka yang mendengar merdeka secara pikir atau hanya budak-budak dogma para pengembala agama. Jangan ajak seekor kera untuk bercermin.

Watch this video on YouTube.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: