Dua hari ini saya intensif mendengar lagu-lagu karyanya Usman Ginting, yang merupakan salah satu penyanyi favorit saya. Satu diantara lagu-lagunya yang sangat menarit bagi saya, ialah lagu yang bercerita tentang kehidupan seorang perempuan, bernama Alena.Alena, seorang perempuan bersuami dengan 2 anak. Saat usia pernikahan yang bisa dikatakan masih baru seumur jagung, kata orang, biasanya pasangan suami-istri di masa itu masih dilingkupi oleh gejolak cinta yang menggebu-gebu, ditambah lagi dengan kehadiran anak-anak yang masih kecil dengan lucu-lucunya. Ini merupakan saat-saat paling bahagia dalam sebuah rumah tangga.Namun, situasi yang demikian tidak pernah dirasakan Alena. Suami yang seharusnya sebagai pelindung dan pemberi nafkah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, karena sakit yang diderita. Kata dokter, sakitnya komplikasi (diabetes, asma, darah tinggi, dsb).Sendiri, Alena harus bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya serta merawat kedua anak dan suaminya yang terbaring sakit. Harta benda yang ada pun semua tergadai untuk biaya pengobatan sang suami, tetapi nyawa sang suami tak tertolong. Tahun ke enam usia pernikahannya, saat usia anak tertua baru 5 tahun dan yang ke dua belum juga mengenal ayahnya, Alena resmi menyandang status janda.Sepeninggal suaminya, bertahun-tahun Alena terus berjuang sendiri untuk anak tercintanya. Terbuang dengan statusnya janda muda yang terkadang menjadi pergunjingan di sekitar kontrakan tempat tinggalnya. Namun, Alena tetap tegar.Hingga pada akhirnya, jerih payah keringat dan air mata tak sia-sia. 2 anak kini telah dewasa dan berhasil lulus jadi sarjana. 2 anak yang baik budi pekertinya berbakti kepada orangtua. Tangisan Alena berbuah manis. Keteguhan hati dan cintanya memberi masa depan yang bahagia, walau bertahun-tahun hidup menderita.Banyak kisah-kisa kehebatan perempuan yang tercerita dari masa ke masa dari seluruh belahan dunia. Alena, karya Usman Ginting ini adalah salah satunya. Cerita dari beberapa syair lagu dalam bahasa Karo yang pernah tercipta untuk apresiasi bagi perempuan.Di era sebelumnya, Djaga Depari juga telah menulis beberapa lagu yang syairnya turut menyiratkan perjuangan hidup perempuan di masa-masa sulit, khususnya masa perang kemerdekaan di wilayah-wilayah Karo (Taneh Karo), seperti Padang Sambo, Sora Mido, Piso Surit, Tunduh-tunduh, dsb. Namun, Alena di masa modern ini kian terasa, mejadi kontras dengan realita di sekitar kita.Di beberapa tempat, masih banyak dapat kita temui kisah hidup perempuan seperti Alena. Bedanya, Alena dalam ceritra, suaminya sakit dan kemudian meninggal dunia. Tetapi, banyak Alena-Alena sekarang ini yang dalam istilah Karo disebut “mbalu la kepaten” atau bolehlah saya terjemahkan dengan, “janda tak ditinggal suami”Sebelumnya, saya pernah menulis tentang “Perempuan Tangguh” yang menceritakan sekelompok perempuan di satu daerah yang bekerja sebagai buruh di perkebunan kayu untuk bubur kertas, yang bekerja keras, bahkan dengan resiko kerja yang cukup tinggi, sedangkan sang suami berkeliaran seperti pemuda lajang dengan stelan yang melebihi anak remaja.Di lain pihak, masih dalam kawasan yang sama, sangat kontras terlihat, dimana ada sebagian lagi perempuan-perempuan yang lebih memilih tidak peduli apapun yang berkaitan dengan kemajuan diri dan anak-anaknya, asal saja mereka bisa beli bedak, ke salon, pokoknya untuk membuatnya nyaman dan tampak cantik. Hidup ini memang aneh. Di satu sisi ada perempuan yang berjuang melebihi peran yang seharusnya dimainkannya dalam lakon kehidupan ini, dan di pihak lain ada juga yang tidak peduli apapun selain kenyamanan dan kesenangannya, bahkan anaknya sendiri. Ada juga yang cukup beruntung tidak sempat melihat dan merasakan hal demikian, sehingga bolehlah dia berujar: “Hidup di dunia ini memang nikmat”.Intinya bagi saya, syair dari lagu Alena ini sebagai pengingat bagi kita kaum pria untuk lebih menempatkan perempuah pada posisi yang lebih berharga. Juga sebagai pengingat bagi kaum perempuan semua untuk menempatkan diri, sehingga kita semua dapat saling menghargai dan dihargai.Berikut ini clip dan syair dari lagu Alena, karya: Usman Ginting Alena, Alena mbalu-mbalu geluhnaDua anak si man kepkepennaAdi sintua lima tahun dengaAdi singuda la tandaina bapanaPerbulangen sakitna sigundariMaka lanaibo kurang penambariSakit gula, asma ras dareh tinggiNina dokter, “Sakitna komplikasi” Ertahun-tahun Alena sisada me erjuangCari makan tempa-tempa terbuangIbas pusuhna lani kel pernah salangErsada iluh ras panas ngukuri padan“Kita la kel bagi jelma sinterem, tandai man banta, nakku” nina ngajarkenTading-tadingen keri menda dayakenGundari Alena tading i rumah kontraken Ngukuri anak sinikelengi tiap wari ia encariEnggo puas, enggo puas rate mesuiTapi kai genduari ulihna, perjuangen la sia-siaAnak si dua tamat sekolahna puas ukurna natapsaDua anak, duana meteh mehuliDua anak, duana menda nampati Adi mbarenda lanai tertukur siraTapina gundari lit sinukur belona Malem-malem sitik tangisna gia tergadai kerinaMalem-malem sitik tangisna gia lanai kuh bas jabuna Post navigationJaringan Internet dan Seluler Kembali Terganggu di Lintas Timur Sumatera Driving Growth through Value Creation