Kolom Nisa Alwis: ANAK BANGSA

0 0
Read Time:42 Second

Tampilan ibu dosen dan guru tiga dekade lalu. Luwes, bernafaskan etika dan estetika. Beragama berakhlak dengan humble, tak ditonjol-tonjolkan. Tak perlu juga membangun dinding pembeda antara “kami dan mereka”, sebagai umat manusia kita setara.

Murid-murid pun cerah ceria. Persis seperti ini jaman saya SD dahulu. Rileks, riang gembira, tak ada tekanan dan intimidasi simbol agama.

Hingga kemudian masyarakat berpaling pada konsep aurat yg tekstual. Digiring pada identitas parsial. Disyiarkan menutup sekujur tubuh adalah kewajiban. Diframing rambut terbuka itu aib dan cela. Dibumbui ancaman neraka.

Sedikit terbuka bisa disindir dan dihina dibilang ‘pakai baju tapi telanjang’. Direndahkan dengan didoakan semoga mendapat hidayah. Dijatuhkan dengan pujian lebih cantik jika berhijab. Giliran ada yang berhijab tapi amoral dibela jangan salahkan hijabnya… Hehee

Anak bangsa sudah dibunuh karakternya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: