Kolom Nisa Alwis: BUKAN JURKAM

Simple life and peaceful mind, itu saja yang saya sekarang pertaankan. Rumah kecil ornamen imlek ini, misalnya, sungguh menawan. Gonjang-ganjing politik yang bagai hantaman ombak bergulung-gulung, bukan wilayah kendali saya untuk tarung. Saya hanya di posisi mencoba memahami logika para Paslon dan para pendukung.

Semua dengan perspektif positif dan argumentatif, tapi bisa berlawanan dan greget jika diadu saling tangkis hadap-hadapan.

Well, seperti halnya segala hal di dunia, politik memang akan selalu demikian adanya; nggak pernah usai apalagi sempurna. Saya salut dan menghargai orang-orang yang mampu berselancar di sana dengan semangat. Mungkin dengan ambisi untuk mengambil posisi kursi, atau sekedar dukungan mendalam. Sah-sah saja alasan idealisme atau pragmatisme hingga diperjuangkan mati-matian. It’s a game, it’s an art, it’s an interest.

Dan kali ini saya ambil posisi biasa saja, tugas Jurkam pun bukan, hanya memilih dan mencoblos di Hari H saja. Done!

Tentunya berdasar penilaian pribadi yang tetap saja subjektif sifatnya, bukan kemutlakan jika Paslon saya menang keadaan negeri akan tinggal landas meluncur, jika yang lain maka bakalan hancur. Ya nggak… Elite politik mah biasa berstrategi dan mudah saja jalin koalisi.

All in all, saya tidak begitu ingin tau pilihan kawanku, keluargaku, tetanggaku. Juga tidak untuk mempengaruhi mereka harus milih yang mana. Apalagi misal sampai mengejek lo blo on amat sih milih dia, nohh! I trust you, I respect differences. Mungkin saya idealis, tapi juga realistis. Apa yang bisa dengan baik saya kendalikan, itu yang saya lakukan. Jika mengubah dunia terlampau imajiner dan halu, ubah diri sendiri aja dulu; a small world means big to you.

Semoga Pilpres kita aman damai, amit-amit kalau sampai perang saudara dan porak poranda seperti Libya, misalnya. Dengan segala propaganda, Khaddafi dijatuhkan dan dihinakan rakyatnya. Setelah itu kekacauan tak berkesudahan, negara tumbang.

Akibat gejolak politik panas rakyat tegang saling serang. Dilematis kadang; Kalah jadi abu menang jadi arang. Semoga kita tidak… Sikap politik harus terkendali, toleran dan bikin bahagia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.