Kolom Bastanta P. Sembiring: Panasnya Udara Belum Sanggup Memanaskan Suhu Politik Negeri Ini

0 0
Read Time:3 Minute, 39 Second

 

Siang itu matahari begitu terik. Tak terasa sebotol air mineral kemasan 1,5 liter dan beberapa minuman kaleng lainnya telah habis. Padahal, baru saja dibeli dan perjalanan pun juga masih jauh.

Percakapan yang berlangsung sejak tadi waktu singgah makan siang di salah satu Rumah Makan Khas Karo (RM BKP Tarigan) di Kota Belilas (Indragiri Hulu, Riau) yang bisa dibilang bertema “rekonsiliasi” atau “upaya saling memaafkan dan menghapus kebencian” terkait issue yang belakangan marak di media, berlanjut hingga di atas mobil.




Di atas langit Riau yang cerah dan panasnya aspal Jalan Lintas Timur Sumatera, tampak pelangi membentang dari arah Timur menuju Timur Laut. Pemandangan yang indah, sedikit mengobati kegundahan akibat cuaca panas.

“Kapan ya, ada demo berjilid-jilid soal makin panasnya udara di negeri ini?”

Pertanyaan itu menandakan topik melompat berganti dari “politik” ke tema lingkungan, dan, seperti hendak berkata, “stop bicara kebencian”, ada hal yang juga urgen perlu diomongkan.

Ya, benar! Kapan kita ramai seramai debatin soal PKI dan DKI? Meperdebatkan untuk mencari solusi bagaimana mengatasi udara panas yang kian hari makin meningkat.

Sebagai gambaran. Dahulu saya ingat saat masih SD, jika ke Berastagi (Dataran Tinggi Karo) dari Kota Medan, masih sampai di Pancurbatu saja sudah pakai jaket, sangkin dinginnya. Kalau sudah sampai di Bandarbaru dijamin menggigil, dan seakan kita sedang berada di khayangan karena kabut putih yang mengelilingi. Kamar mandi penuh sesak antrian. Mungkin karena udara dingin jadi pengen buang…

Jangankan Berastagi, di Sibiru-biru, Penen, bahkan Namorambe saja udaranya masih dingin saat itu. Kebetulan ketiga daerah di Kabupaten Deliserdang tersebut dahulu sering saya kunjungi, bahkan bisa tinggal hingga berminggu-minggu di sana.

Sekarang?

Berastagi yang terkenal dengan udaranya yang dingin, yang dikenal sebagai kota wisata, kota bunga dan kota buah (utamanya marquisah, jeruk, dan terong belanda), yang dijuluki Paris van Sumatera kalau di siang hari juga panas. Apalagi di Kota Medan sekitarnya.

Siapa yang merasakan?

Ya, tentu semua. Siap bilang masyarakat miskin saja yang merasakan.  Orang kaya dan pejabat juga sangat merasakan imbasnya, mungkin tidak di kulitnya. Tetapi tagihan listrik meningkat, biaya perbaikan alat, penggunaan BBM meningkat, konsetrasi kerja akibat daya tahan tubuh gampang menurun, dsb. Dan tidak mungkin orang kaya ataupun pejabat-pejabat itu sanggup di ruangan ber-AC terus-terusan, pasti sesekali kena panas dan triknya matahari juga.

Tetapi, sepertinya issue semakin panasnya suhu udara ini tidaklah lebih penting dibanding soal ideologi, rasisme, dsb, sehingga tidak sangup memanaskan suhu politik di negeri ini.

Mungkin karena dianggap tidak punya nilai jual di pasaran politik, maka tidak ada investor politik yang mau keluarin duit dan tenaga untuk gerakkan massa besar dan berjilid-jilid. Bahkan di daerah yang rentan terhadap bahaya laten bencana lingkungan, baik alamiah maupun ulah manusia, elit-elit di daerah itu jarang sekali mengangkat isue lingkungan. Seakan panas udara dan bencana alam itu tidak mereka lihat dan rasakan, maka didiami saja, dinikmati apa adanya.

Sebagai contoh di Sumatera. Bertahun-tahun bencana kabut asap mengganggu, baru setelah Presiden Jokowi menyatakan komitmennya menanggulangi asap yang tidak hanya isapan jempol dan angin lalu, dan membuktikannya.




Hingga Oktober ini, Sumatera aman dari kabut asap kebakaran hutan. Salut buat Pak Jokowi.

Namun, apakah untuk mengatasi meningkatnya suhu udara juga menunggu Jokowi turun tangan menyemprot gubernur dan walikota/ bupati bak petir di siang bolong untuk bangun hutan kota, sepanjang jalan lintas tanam pohon jenis tertentu, tiap rumah wajip punya pohon/ bunga, stop menanam kelapa sawit di kawasan tertentu, dan stop mengkonversi hutan di kawasan tertentu, dsb.

Seperti Kota Medan yang dapat julukan baru “kota sejuta lubang” setelah beredar foto Jokowi mengelap lumpur di sepatunya dan pernyataanya yang mengatakan, “benahi atau saya duluan kerjakan” kira-kira demikian kata Presiden kepada Walikota Medan. Baru ribut konfirmasi ini, itu, dan dikerjakan.

Sebuah guyonan teman saya katanya, “lu tau kenapa tiap tahun jemaah haji dari Indonesia makin sedikit mati di tanah suci (Arab Saudi)?” dan dia beri jawaban lagi, katanya “karena di Indonesia dan di Saudi panasnya sama.”

Mungkin maksud dia karena di Indonesia dan di Arab Saudi sudah hampir sama panasnya (suhu udaranya), sehingga fisik orang Indonesia sudah terbiasa menghadapi suhu udara seperti di Timur Tengah. Dan, tidak tertutup kemungkinan juga suau saat lebih panas di Indonesia.

Jadi, apakah kita tunggu negeri ini dapat julukan baru, “negeri neraka” sangkin panasnya, baru kita berbenah?









Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Bastanta P. Sembiring

Mejuah-juah Indonesia ??

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: