Kolom Ray Bambino: SALAH HITUNG

Kubu O1 harus mengakui manuvernya salah perhitungan. Wacana pembebasan Ba’asyir saya yakini untuk mengukur kekuatan lawan, yaitu melihat respon. Jika lawan tidak protes, maka ada radikalis/ teroris “di belakang” lawan.

Kolom Asaaro Lahagu: YUSRIL GAGAL JEBAK JOKOWI SOAL BAASYIR (Akhirnya Gigit Jari)

Saya menduga, pembisik pertama di telinga Jokowi untuk mendorong pembebasan ABU Bakar Baasyir (ABB) adalah Bang Yusril. Alasan saya sederhana. Lihatlah wajah Bang Yusril sesaat setelah dia mengumumkan bahwa ABB akan bebas. Wajahnya cengingisan, gembira ria, mirip orang yang ketiban durian runtuh.

Kolom Andi Safiah: BENAR SALAH

Salah benar dalam politik itu relatif. Jika Si A mengambil posisi mendukung atau berseberangan apa si A salah? Tentu saja tidak. Salah dan benar itu harus diuji. Sekarang, mari kita uji sebuah kasus yang lagi panas-panasnya. Benarkah ABB sudah dinyatakan secara sah dan legitimate bebas?

Kolom Boen Syafi’i: JANGAN GOLPUT PUT

Ada kecebong yang kecewa sambil meneriakan, “aku diampuutt eh Golpuuuttt”, gara gara Baasyir bebas. Sah sah wae. Wajar sebenarnya bila ada yang kecewa, baper, mbrebes mili, nangis guling-guling, sampai meneteskan air mata (sambil ngiris bawang merah). Tapi, mbok yo, dipikir-pikir dulu dalam memutuskan segala sesuatunya.

Kolom Eko Kuntadhi: 2 WAJAH PENANGANAN TERORIS

Dulu setelah polisi menangkap gerombolan teroris, berita disebar besar-besaran. Bahkan ada sebuah penangkapan yang disiarkan langsung oleh stasiun TV. Para petugas berlarian membawa senjata. Mengepung sebuah rumah. Dar, der, dor! Mirip film bioskop. Gunanya untuk menciptakan rasa aman masyarakat. Tuh, lihat petugas kita gak takut. Teroris berhasil diringkus atau dikalahkan.

Kolom Muhammad Riza: MENGAPA MEREKA TETAP MEMIHAK KUBU SEBELAH?

Saya bukan seorang yang taklid buta. Kebijakan Jokowi yang sia-sia ini hanya karena membebaskan ABB dengan dalih kemanusiaan terhadap seorang yang sudah tua. Tanpa mempertimbangkan hasil perbuatannya dulu yang telah merenggut banyak nyawa manusia. Lalu, bukankah mereka seharusnya berpihak kepada Kubu Jokowi yang mengambil resiko politik dalam membebaskan ABB?

%d bloggers like this: