Kolom Aspipin Sinulingga: JANGAN AJAK KERA BERCERMIN — Gerombolan Pengeroyok Ade Armando (Celengan Rindu)

Dari Ade Armando kita belajar bahwa memberi pencerahan kepada segerombolan kera hanya akan menghasilkan babak belur pecah bibir. Berbicara ke publik dengan nalar terkontaminasi dogma, masalahnya bukan pada apakah yang anda katakan benar, tapi lebih kepada apakah mereka yang mendengar punya cukup nalar.

Kolom Eko Kuntadhi: SEKELUMIT SOAL ADE ARMANDO — Menghadapi Gerombolan Serigala Haus Darah

Banyak yang menarik dari sosok Ade Armando dalam kejadian ini. Saya punya cerita. Saat dia terbaring di RS, dalam keadaan luka, masih sangat terbayang perihnya, Ade Armando selalu berusaha terlihat tersenyum.

Kolom Acha Wahyudi: MEMUJA KEKERASAN — Penghabisan Kau Datang Membawa Kembang Berkarat (Chairil Anwar)

Kejadian keji sore kemarin kembali membuktikan agama adalah alat politik yang telah melecehkan kemanusiaan. Manusia-manusia dengan atribut dan slogan-slogan khas suatu agama mampu melakukan kebiadaban itu. Sementara para supporternya dari berbagai profesi, diantaranya berlabel pendidikan tinggi, sanggup tertawa.

Kolom M.U. Ginting: LAPOR LAGI

  “Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayat-Nya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphop, Blues,” kata Dosen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia Ade Armando dalam cuitan FB. Lantas diadukan menghina agama. Ini berarti Tuhan tidak membedakan bahasa dan kultur manusia dunia. Tetapi malah diadukan ke polisi.

%d bloggers like this: