Kolom Eko Kuntadhi: JIHAD GORENGAN

Benar saja dugaan saya, 6 anggota FPI yang mati karena melawan petugas akan dinarasikan sebagai syuhada. Haikal Hassan bahkan berani ngomong terang-terangan, mereka sedang bersama Rasulullah. Di media sosial, beredar foto jenazah lagi tersenyum sumringah. Seperti baru dapat lotere. Mereka membangun narasi, inilah syuhada yang mati tertembak kemarin.

Kolom Eko Kuntadhi: ORGANISASI GEROMBOLAN

Dulu, sebelum kedatangan virus pekok, Indonesia tidak ragu memberantas DI/ TII. Bendera gerombolan yang suka merampok rakyat di Tanah Periangan ini juga mirip dengan bendera HTI. Mengunakan kalimat syahadat. Tapi kelakuannya juga mirip.

Kolom Eko Kuntadhi: HARI SANTRI DAN PARA PENDOMPLENG

Jan Ethes Srinarendra tampak ikut serta dengan Presiden Joko Widodo hadir dalam acara Hari Santri Nasional di area Benteng Vastenburg Solo [Sabtu 20/10]. Foto: Tribune Pekanbaru.

21-22 Oktober 1945 di Surabaya. Para kyai berkumpul membicarakan mengenai masa depan Indonesia. Saat itu, negara ini baru saja mendeklarasikan kemerdekaannya tapi pasukan asing masih ingin berkuasa. Rasa kebangsaan para kyai NU mencuat. Mereka tidak mau tinggal diam melihat NICA tetap bercokol di Indonesia.

Kolom Boen Syafi’i: MASUK SURGA SEKARANG MUDAH SAJA

Ibu-ibu pengen masuk surga? Minta kepada ALLOH, minta kepada Rosululloh, minta kepada Prabowo, minta kepada Sandiaga. Kata Novel Bamukim FPI di sebuah acara. Wow, statemen yang emejing warbiasyah bukan? Gak usah kaget, lha wong apa yang dikatakan oleh si Novel ini kenyataan kok.

Kolom Boen Syafi’i: PERIODE KE 2 WAKTUNYA MAIN KERAS DAN TEGAS

Semestinya kalau pemerintah benar-benar menegakkan aturan, seorang mantan Gubernur Ahok tidak akan dipenjara tetapi hanya ditegur oleh Mendagri saja. FPI pun harus menyusul kakaknya HTI untuk dihabisi, karena terang-terangan ingin mengganti idiologi Pancasila dengan NKRI yang bersyariat.

Kolom Eko Kuntadhi: INTIM

“Semua ibadah untuk manusia, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya,” kata Allah dalam sebuah hadist Qudsy.   Ah, Allah membuka jalan agar manusia bisa bermesra-mesra dengan-Nya. Begitu intim. Begitu personal. Bukan kemesraan yang diumbar-umbar seperti status ibu-ibu muda di medsos. Tapi kemesraan yang diam, yang syahdu, yang rahasia.

Kolom Andi Safiah: KETEGASAN MENCEGAH KEKERASAN

Jokowi sebagai pribadi yang otentik, lucu, unik, menyenangkan, baik, senyumnya lebar, dan tidak suka basa-basi adalah cerminan manusia Indonesia pada umumnya. Secara pribadi juga mereka lebih baik menghindar dari masalah, apalagi berkonflik secara terbuka, sama sekali bukan tipikal manusia Indonesia.

%d bloggers like this: