Jepret Nusantara: RAYAKAN KERAGAMAN SYUKURI KEBERSAMAAN — Dikelilingi Orang-orang Baik

Oleh NISA ALWIS Nggak ada yang lebih istimewa dari kegembiraan. Merayakan keragaman, kebersamaan, rasa syukur ini tak terhingga. Semua senyum ceria, beramah tamah, berhias dengan tata busana khas, menikmati tata rambut lagi. Rindu terobati.

Kolom Nisa Alwis: ORANG INDONESIA

Kemarin seorang ukhti memuji gadis berjilbab di samping saya, sekaligus ia menunjukkan tak ada kompromi baginya apalagi apresiasi pada yang hanya berselendang saja. “Alhamdulillah yang muda malah sudah hijrah” begitu kurleb ungkapannya. Selanjutnya ia bersemangat menunjukkan dirinya agen dakwah.

Kolom Nisa Alwis: DOMPET YANG TERCECER

Seharian cari dompet hitam. Ternyata ia jauh, ada di Bandung. Terbawa di tas orang yang saya tidak kenal itu siapa. Dompetku berpetualang sendiri kayak Nemo. Feeling saya ketinggal di GrabCar, sepulang dari MRT. Tapi, sopir grab tidak bisa dihubungi. Lemari saya bongkar, siapa tau terselip di sela baju. Gak ketemu.

Kolom Eko Kuntadhi: PENYERAGAMAN BUSANA MUSLIMAH ADALAH PENJAJAHAN

Ada gerakan kebaya. Disodorkan untuk melawan arus jilbabisasi. Agar orang kembali ke akar budaya kita. Dan menghargai keragaman busana. Memang, yang namanya busana mestinya beragam. Setiap orang punya cara mengekspresikan dirinya.

Kolom Boen Safi’i: IBUNDA AL MAGHFURLAH GUS MAKSUM..

Kisah ini ada di Ponpes Lirboyo, Kediri (Jatim). Bermula dari adanya jin yang mengamuk di aula pondok waktu itu. Jin ini terlalu sakti untuk dihadapi. Dibacakan fatihah gak mempan. Dibacakan yasiin malah ikut ikutan membaca. Ndarus Al Quran pun malah kegirangan.

%d bloggers like this: