Kolom Muhammad Riza: SASARAN MAKAR

Memang bisa dikategorikan sebagai kelompok radikal. Ada bukti indikasi makar pada doktrin jaringan politik Ikhwanul Muslimin (IM) di buku pegangan mereka yang berjudul “Perangkat-perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin” yang dituilis oleh Dr. Ali Abdul Halim dari Mesir, cetakan I dalam Bahasa Indonesia (terbitan tahun 1999: halaman 118-119) yaitu tentang “Manhaj dan Sikap Jamaah (IM) Terhadap Pemerintah”.

Kolom Muhammad Riza: PERTARUNGAN 2 IDIOLOGI

Jika dicermati Pemilu/ Pilpres kali ini, memang pertarungan 2 ideologi. Doktrin mereka, kaum absolutisme adalah; “Indonesia ini WILAYAH PERANG (darul harbi)”. Sehingga ayat-ayat pun dipelintir, segala tipu daya dibolehkan. Segala kebengisan dibiarkan. Segala keculasan dan kelicikan dibebaskan.

Kolom Asaaro Lahagu: MISI PKS ‘JOKOWIKAN’ PRABOWO JIKA TERUS DIKIBULI SOAL WAGUB (Sirulo TV)

Sudah 8 bulan kursi Wakil Gubernur DKI yang ditinggalkan Sandi masih kosong. Tarik-menarik kepentingan antara Gerindra-PKS soal kursi Wagub membuat pemilihan Wagub DKI berlaru-larut. Apa yang sebenarnya terjadi antara Gerindra dengan PKS selaku pengusung Anies-Sandiaga pada Pilkada 2016 lalu?

Kolom Boen Syafi’i: PAN, PKS DAN DEMOKRAT TINGGAL TUNGGU KEMUSNAHAN

Yu Waginem si penjual jemblem juga mendukung Jokowi Presiden 2 Periode.

Blunder demi blunder omongan yang dilakukan oleh Capres Prabowo, tampaknya semakin sering saja. Katanya Indonesia bubar. Indonesia punah. Tampang Boyolali. Hingga mengucapkan kalimat fenomenal berupa “Hulaihi Watu Ulo”. Ediaaaaaan.

Kolom Eko Kuntadhi: SEBERAPA GREGET PKS?

Seorang teman bicara padaku: “Aku kok kasian sama kader PKS? Setiap hari kerjanya belain Prabowo, tapi mereka juga tahu, partainya gak dapat apa-apa.”   Saya cuma tersenyum menyahuti teman itu. PKS memang ngenes. Kardus yang dijanjikan bakal membantu operasional partai gak sesuai isinya. Cuma secuil. Capresnya dari Gerindra. Cawapres diambil Gerindra. Ketua tim pemenangan juga… Continue reading Kolom Eko Kuntadhi: SEBERAPA GREGET PKS?

Kolom Eko Kuntadhi: ORGANISASI GEROMBOLAN

Dulu, sebelum kedatangan virus pekok, Indonesia tidak ragu memberantas DI/ TII. Bendera gerombolan yang suka merampok rakyat di Tanah Periangan ini juga mirip dengan bendera HTI. Mengunakan kalimat syahadat. Tapi kelakuannya juga mirip.

Kolom Eko Kuntadhi: HARI SANTRI DAN PARA PENDOMPLENG

Jan Ethes Srinarendra tampak ikut serta dengan Presiden Joko Widodo hadir dalam acara Hari Santri Nasional di area Benteng Vastenburg Solo [Sabtu 20/10]. Foto: Tribune Pekanbaru.

21-22 Oktober 1945 di Surabaya. Para kyai berkumpul membicarakan mengenai masa depan Indonesia. Saat itu, negara ini baru saja mendeklarasikan kemerdekaannya tapi pasukan asing masih ingin berkuasa. Rasa kebangsaan para kyai NU mencuat. Mereka tidak mau tinggal diam melihat NICA tetap bercokol di Indonesia.

Kolom Eko Kuntadhi: CAPRES PEMALAS, CAWAPRES CAPER, LOGISTIK CEKAK

Andi Arief menyindir Prabowo sebagai Capres pemalas. Gak mau terjun ke masyarakat. Cuma duduk diam di Hambalang. Kelakuan politisi seperti ini, kata Andi Arief, tidak akan menambah suara Prabowo. Padahal Pilpres tinggal beberapa bulan lagi.

Kolom Muhammad Nurdin: DULU SEBUT SANDI SANTRI, KINI ULAMA (PKS Dibayar Berapa?)

Menyebut Sandiaga Uno sebagai “santri” lalu tak berselang lama dinaikkan lagi kedudukannya sebagai “ulama”, membuat saya terpaksa mengambil satu kesimpulan yang sangat zalim, PKS dibayar berapa untuk ini? Sebagai partai yang selalu menampilkan sisi Islami, meski ketua partainya yang ono doyan korupsi, PKS seharusnya tidak sembarangan mengesahkan “kedudukan” santri dan ulama kepada seseorang yang jelas-jelas… Continue reading Kolom Muhammad Nurdin: DULU SEBUT SANDI SANTRI, KINI ULAMA (PKS Dibayar Berapa?)

%d bloggers like this: