TELAH DISEPAKATI — Kontrak Layanan IoT Gunakan EtaPRO™ untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Indonesia

Foto PLTP Patuha
0 0
Read Time:3 Minute, 4 Second

MARIKO MIYASAKI | KAWASAKI (Jepang) | Toshiba Energy Systems & Solutions Corporation (disingkat “Toshiba ESS”), melalui anak usahanya di Indonesia (Toshiba Asia Pacific Indonesia) yang bergerak di bidang bisnis energi dan infrastruktur, telah menyepakati kontrak kerja sama dengan PT Geo Dipa Energi (Persero) (disingkat “GDE”). Melalui kontrak ini, Toshiba ESS menyediakan layanan IoT yang memperbaiki tingkat penggunaan fasilitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Patuha[1]. Layanan tersebut menggunakan teknologi IoT dan kecerdasan buatan (AI), termasuk diagnosa kerusakan secara prediktif (predictive failure diagnosis) dan pemantauan kinerja PLTP.

Kontrak ini merupakan aplikasi Layanan IoT secara komersial pertama yang dilakukan Toshiba ESS untuk PLTP.

Layanan ini adalah versi komersial dari proyek percontohan NEDO (New Energy and Industrial Technology Development Organization) untuk PLTP Patuha pada Oktober 2019[2]. Proyek percontohan ini membuktikan efektivitas teknologi predictive failure diagnosis yang berbasiskan komputasi awan dari Toshiba ESS, serta turut mendukung keputusan untuk melakukan kontrak kerja sama. Sistem yang tersedia lewat layanan ini menggunakan EtaPRO™[3], perangkat lunak yang diakuisisi Toshiba ESS tahun lalu. Proyek ini merupakan penggunaan komersial EtaPRO™ yang pertama di dunia untuk PLTP.

Sistem tersebut memiliki keunggulan teknologi dengan memanfaatkan AI dalam menganalisa data operasi pembangkit listrik secara seketika dari beragam sensor. Sistem tersebut juga mendeteksi tanda-tanda anomali yang berpotensi menimbulkan gangguan pada operasi normal.

Pengguna Layanan dari GDE dan Kepala Pengembangan Toshiba ESS. Dari kiri Fajar Dhani Wardhana(GDE), Hiroyuki Ichikawa (Toshiba ESS), Andisyah Purdanto(GDE), Mochamad Reza Nugraha (GDE)

Dengan demikian, sistem tersebut mengurangi frekuensi dan durasi penghentian operasi pembangkit listrik; proyek percontohan yang dilaksanakan NEDO menunjukkan, sistem tersebut mampu mengurangi frekuensi gangguan hingga lebih dari 20%. Fitur unggulan lainnya adalah kemampuan sistem mendeteksi tanda-tanda anomali sesuai dengan kondisi spesifik di PLTP, seperti kondisi aliran uap yang tidak stabil menuju turbin sebagai insiden yang tidak terjadi di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Di Indonesia, kapasitas terpasang pembangkit listrik secara keseluruhan mencapai sekitar 62 GW pada 2020. Setengah dari kapasitas terpasang ini merupakan pembangkit listrik tenaga uap (batubara). Di sisi lain, sesuai Kesepakatan Paris, pemerintah Indonesia bertekad mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030. Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), tambahan kapasitas PLTP mencapai 3,4 GW (sekitar 8%) dari kapasitas pembangkit listrik total sebesar 40,6 GW yang akan terpasang pada 2030[4].

Tampilan “Predictive Failure Diagnosis” EtaPRO™ (PRNewsfoto/Toshiba Energy Systems Solutions Corporation)

Toshiba ESS telah memasok peralatan untuk beberapa PLTP di Indonesia. Terlebih lagi, Toshiba ESS akan proaktif menawarkan solusi IoT yang mendukung operasi PLTP secara optimal, sehingga mengatasi isu yang dihadapi pelanggan, baik pada masa kini maupun masa mendatang. Dengan menerapkan layanan ini di seluruh dunia, Toshiba ESS ingin mengurangi biaya yang dikeluarkan pelanggan untuk memproduksi listrik. Maka, Toshiba ESS turut memperbaiki tingkat penggunaan pembangkit listrik, serta mempromosikan PLTP dan ikut membantu mencapai netralitas karbon.

[1] Sejumlah PLTP yang dioperasikan dan dikelola GDE, BUMN Indonesia yang bergerak di sektor Panas Bumi. Proyek ini mulai beroperasi pada 2014 dan menghasilkan daya listrik sebesar 60.000 kW.
[2] Proyek pengembangan teknologi NEDO (New Energy and Industrial Technology Development Organization) untuk aplikasi mutakhir di PLTP
https://www.global.toshiba/ww/news/energy/2019/10/news-20191023-01.html
https://www.nedo.go.jp/activities/ZZJP_100066.html(Hanya tersedia dalam bahasa Jepang)
[3] Perangkat lunak pemantauan untuk operator pembangkit listrik yang telah terpasang selama lebih dari 30 tahundi 60+ negara dengan total kapasitas sebesar 700 GW, termasuk PLTU, PLTA, PLTB, dan PLTS
https://www.global.toshiba/ww/news/energy/2021/10/news-20211005-01.html
[4] Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2021-2030
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: