Kolom Eko Kuntadhi: THANOS MAU MEMUSNAHKAN WAYANG

0 0
Read Time:3 Minute, 26 Second

Seorang penceramah gondrong sedagu, entah dapat wangsit dari mana, tetiba meminta wayang dimusnahkah dari Indonesia. Nama penceramah ini Khalid Basalamah. Mulanya ia tancap gas berfatwa bahwa wayang itu haram. Lalu meminta wayang-wayang di seluruh dunia dimusnahkan.

Mirip seperti Thanos yang mau menghancurkan kehidupan.

Enak aja. Baru juga berjanggut dan berjidat hitam, sudah merasa mau jadi Tuhan. Seenaknya merusak nilai budaya kita.

Khalid gak tahu, selain wayang golek dan wayang kulit, di Indonesia juga ada kesenian wayang orang. Orang asli yang mempertunjukan kisah pewayangan. Mau dimusnahkan juga sama Khalid and the gank?

Ok, katakanlah wayang yang dimaksud itu boneka lucu kreasi bangsa Indonesia. Di Jabar ada wayang golek. Di Jateng dan Jatim ada wayang kulit.

Tapi, memusnahkannya sama saja menyeret bangsa ini menjadi tidak beradab. Merusak nilai budayanya sendiri adalah perbuatan masyarakat nir-budaya. Perbuatan yang hanya bisa dilakukan manusia tuna sejarah.

Saya sih memahami, kenapa orang kayak Khalid ini bermunculan belakangan ini. Mengasong agama lalu membenturkannya dengan kebudayaan.

Pandangan-pandangan Khalid khas pemikiran Wahabi. Pikiran ini berkecambah di Saudi. Negeri gurun itu menganut cara berfikir agama yang diwakili Khalid.

Salah satu cirinya adalah menarik segala sesuatu seolah-olah sedang menuhankan.

Ziarah kubur, haram. Karena berdoa hanya kepada Tuhan, bukan ke kuburan. Akibat pemahaman ini, di Saudi sana, makam orang-orang besar, dihancurkan sedemikian rupa.

Makam keluarga Nabi diratakan begitu saja. Artefak-artefak kebudayaan juga dihancurkan. Rumah Khalifah Umar berubah jadi Hotel Hilton.

Tidak ada artefak budaya saat kita pergi ke Tanah Suci. KIta bahkan tidak bisa merasakan lagi suasana saat jaman itu. Semua dirubuhkan. Semua dihancurkan.

Jika tidak ditentang oleh Umat Islam di seluruh dunia, mungkin makam Nabi juga digusur.

Mereka menerjemahkan syirik dalam konsep yang sangat dangkal. Segala sesuatu diterjemahkan menjadi senilai Tuhan.

Nah, dengan pendekatan itulah, mungkin Khalid mau memusnahkan Wayang. Sebeb dia bersandar pada keyakinan, penyembahan berhala jaman dulu dan pelarangan orang membuat berhala yang menyerupai manusia.

Tapi wayang adalah wayang. Berhala lain lagi.

Fungsi wayang adalah sebagai medium membawa cerita. Kisah-kisah dengan nilai luhur disampaikan via tokoh pewayangan. Ada filosofi kehidupan. Makna kemanusiaan. Konflik politik. Dan berbagai kisah yang bisa dipetik hikmahnya.

Tapi, bagi orang model Khalid, wayang adalah berhala. Maka, demi memurnikan ajaran agama, ia memerintahkan untuk memusnahkan.

Ajaran Wahabi memang digunakan oleh para pengasong agama untuk merusak seluruh kebudayaan lokal. Lihat saja ISIS. Ketika mereka mengusai sebuah wilayah, yang pertama dilakukan adalah menghancurkan bangunan kebudayaan masyarakat.

Mereka mencerabut masyarakat dari sejarahnya. Mereka ingin menghilangkan identitas kultural sebuah bangsa.

Dan meski mengaku anti politik. Anti kudeta. Meski mengharamkan demo. Tapi Khalid memerintahkan memusnahkan sebuah makna Kebudayaan Indonesia. Ini sama saja menjauhkan bangsa ini dari nilai sejarahnya.

Saya gak ngerti, kenapa banyak orang beragama selalu berusaha membenturkan dengan budaya masyarakat. Agama datang mirip SPBU: mulai dari nol ya.

Padahal sebuah ajaran akan ditentang dengan sendirinya ketika datang seperti penjajah : merusak tatanan yang ada. Dan saya yakin, Islam semestinya bukan hadir seperti penjajah. Bukan hadir untuk menghancurkan sebuah kebudayaan. Tetapi justru menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan beragama.

Kalau saja Walisongo dulu isinya orang-orang kayak Khalid Basalamah, tentu Islam tidak akan pernah berkembang di Indonesia. Justru karena dulu agama ini diperkenalkan dengan mengadopsi budaya lokal, sehingga masyarakat dapat menerima dengan baik.

Yang diubah adalah esensinya. Nilai terdalamnya. Gak perlu ngurusin kemasannya.

Wayang hanyalah kemasan. Mungkin juga sekadar ekspresi seni. Jangan ditarik terlalu jauh, jadi mirip sejenis berhala.

Hanya orang yang imannya tipis saja yang selalu ketakutan terganggu oleh sesuatu yang sebetulnya tidak menganggu. Khalid mewakili cara berfikir seperti itu.

Cara berfikir yang menarik kita pada kemunduran.

Padahal di Saudi sendiri. Tempat ajaran Wahabi berbiak. Kini mereka sudah mau membuka diri. Tidak mau lagi dikungkung oleh penceramah model kayak Khalid.

Saudi berubah kebarat-baratan sekarang. Barat menyukai eksotisme Indonesia. Sementara oleh Khalid, Indonesia mau dijadikan Saudi Arabia.

Sejak tahun 1980-an, Saudi mengeluarkan biaya besar memperkenalkan Wahabi untuk membodohi Indonesia. Eh, setelah Indonesia sudah ikut bodoh. Saudi malah mau berubah.

Kan, ngehek!

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: