WALANTARA KE POLRES KARO — Menguliti Dugaan Pencurian Kayu Siosar

SALSALINA KARO | KABAN JAHE (Karo Julu) | DPD Wahana Lingkungan Alam Nusantara (Walantara) Kabupaten Karo melancarkan sebuah aksi damai ke Mapolres Karo (Kaban Jahe) [Jumat 22/9]. Di sini, Walantara Karo menyampaikan harapannya agar aparat penegak hukum dan Dinas Kehutanan Kabupaten Karo tegas menindak pelaku pembalakan liar (illegal logging) di Gunung Siosar.

Harapan itu terkait dengan ditemukannya pembalakan liar di Desa Suka Maju (Talun Kuta) (Kecamatan Tiga Panah).

Secara tradisional, Talun Kuta yang sekarang berganti nama Suka Maju ini berada di Urung Sipitu Kuta Ajinembah, panteken Ginting Munte mergana. Bersama Kacinambun, Lau Riman dan Pertibi Lama yang juga secara tradisional berada di Urung Sipitu Kuta Ajinembah, pemukiman Suka Maju berada di kaki Gunung Siosar.

Kehadiran Walantara Karo langsung disambut oleh pihak Kasat Intelkam Polres Tanah Karo (AKP Narno) dan para petinggi Polres lainnya.

Ada dugaan, telah terjadi permainan dinas terkait dengan para pembalak liar.

“Sepertinya penggunaan barkot tidak sesuai karena ditemukan ada balok-balok kayu keluar dari Hutan Siosar yang tidak memiliki barkot. Kita menerima info kalau luas kawasan hutan sekitar 16 Ha. Padahal, izin yang dikeluarkan menurut investigasi kami sudah melebihi luas kawasan hutan. Selain itu, kami juga melihat adanya kayu-kayu keras yang diangkut dari Siosar,” Juliadi Kaban SH memaparkan permasalahan yang hendak mereka sampaikan.

Juliadi menambahkan bahwasanya kemarin [Kamis 21/9] mereka sudah melaporlannya.

“Tapi laporan kami diarahkan ke sana ke mari. Kehadiran kami hari ini adalah karena kami menganggap laporan kami belum serius ditanggapi,” tegas Juliadi.

Ketua Bidang Pengkaderan DPD Walantara (Monas Ginting) menyampaikan hal senada.

“Kemarin kami sempat minta izin, namun terkesan ditutupi. Maka kami pun menduga ada penyelewengan dalam penebangan kayu-kayu itu,” ujar Monas.

Mewakili Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) XV, Boyke Nababan mengatakan hasil peninjauan mereka ke ke lapangan bersama DPD Walantara.

“Itu adalah penebangan si APL,” ujar Boyke.

Pengurus Walantara Karo lainnya menjelaskan kalau kayu-kayu memiliki barkot, seharusnya ada Tenaga Teknis (Ganis) yang menempelkannya dari dinas terkait.

“Mengapa ada barkot terhampar sembarangan di tanah. Kita bingung saat membuka aplikasi barkot yang sulit sekali bahkan tidak bisa dibuka,” ujar para pengurus Walantara Karo.

Sebelumnya, Kanit Tipiter Polres Karo (Ipda Regen Manik) berjanji akan berkoordinasi dengan pihak kehutanan untuk selanjutnya diadakan pemeriksaan apakah memang ada pelanggaran atau tidak. Itu dikatakan oleh Manik saat berada di lokasi penebangan (Hutan Siosar).

Sekretaris DPD Walantara Karo (Monang Pulungan SH) mengingatkan di areal yang sama pernah ada penangkapan.

“Kasusnya juga diduga sama. Penangkapnya juga dari Polres Tanah Karo. Oleh karena itu, saya menduga banyak permainan dalam kasus ini,” ujar Monang.

Kepala Perlindungan Hutan (KPH) (Ramlan Barus) saat dikonfirmasi mengatakan belum mengetahui secara pasti mengenai ijin kayu tersebut. Dia berjanji menghubungi kembali. Sampai berita ini dikirim ke redaksi, Ramlan Barus tidak menghubungi kembali.

Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provisi Sumut (Ir. Yuliani Siregar) saat dikonfirmasi oleh wartawan tidak memberikan jawaban apa-apa. Demikian juga saat dihubungi via WA. Meski terdengar nada masuk, Kadis LHK Sumut itu tidak mengangkat teleponnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.