PENCABULAN ANAK MARAK DI LANGKAT — Tapi Tak Cukup Dana Pendampingan

0 0
Read Time:1 Minute, 30 Second

ROBBY TARIGAN | STABAT | Banyaknya kasus pencabulan anak di Langkat memprihatinkan semua pihak. Kasus-kasus pencabulan anak setiap pekan nyaris selalu ada. Sejak Januari hingga Maret 2022, pencabulan anak di Kabupaten Langkat (Sumut) menurut jumlahnya lebih dari 10 kasus.

Ironisnya, Kabupaten Langkat setiap tahunnya mendapat penghargaan sebagai Kabupaten Layak Anak Tingkat Pratama.

Ini tidak sebanding dengan jumlah kasus pencabulan anak yang terjadi. Anggaran pendampingan anak juga minim. Padahal dibutuhkan biaya sejak pendataan kasus, penjemputan, hingga pendampingan hukum mulai dari pelaporan hingga persidangan.

Menurut Koordinator Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2) Kabupaten Langkat (Ernis SA), anggaran mereka sangat terbatas.

FOTO: Ernis SA

Ernis SA yang selama ini bekerja di bawah Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP2PA) mengatakan, tidak jarang Tim P2TP2A mencari dan mengupayakan dana sendiri untuk biaya kebutuhan pendampingan hukum anak korban pencabulan.

Bayangkan, anggaran yang diberikan sangat terbatas. Bahkan sejak menerima laporan adanya anak menjadi korban pencabulan, Ernis sering mencari dana sendiri untuk mendatangi rumah korban, membawanya ke rumah sakit (visum), ongkos pendampingan pelaporan, dan makan anak serta ibu korban selama proses pelaporan sampai ke persidangan.

“Pokoknya kita sering mencari dana sendiri. Bahkan uang pribadi tak jarang ikut terpakai,” ujar Ernis kepada wartawan [Rabu 16/3].

Selain itu, lanjut Ernis, pihak Dinas Sosial yang membidangi perlindungan perempuan dan anak seakan lepas tangan untuk berbagai biaya kebutuhan pendampingan anak korban pencabulan, penganiayaan, atau kekerasan lainnya terhadap anak.

Bahkan terkesan mereka hanya mencari data.

“Sementara kita harus terus melakukan pendampingan terhadap korban. Sedangkan biaya untuk itu harus kita upayakan sendiri. Saat proses hukum berlangsung, penyaluran danyanya terkesan sangat lambat. Bahkan, untuk trauma healing anak pasca persidangan, kita sering yang kelimpungan cari biaya,” ujarnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: